Putus Cinta saat Corona: Fakta, Penyebab, dan Cara Mencegah

Ada yang putus saat corona? I felt that. Bahkan, angka cerai saat pandemi meningkat di seluruh dunia. Hal ini dipicu oleh rasa stres selama karantina, faktor ekonomi yang menurun, dan akumulasi krisis lainnya pada pasangan selama pandemi. 

Dalam pembahasan kali ini, kamu akan membahas tentang penyebab putus cinta saat corona, angka perceraian selama pandemi, hingga bagaimana cara mempertahankan keseimbangan hubungan di masa pandemi yang belum usai ini. Semoga bisa membantu kita semua. 

Efek Buruk Pandemi Corona bagi Hubungan Pasangan 

Psikolog Susan Albers, PsyD, menyampaikan bahwa pademi COVID-19 memengaruhi kualitas hubungan antar pasangan. Salah satunya akibat karantina atau merasa terkurung 24/7 menyebabkan banyak tekanan, stres, kegelisahan, hingga memicu berbagai efek psikologi setiap orang. 

Ya, walaupun kamu karantina dengan orang yang kamu cintai, orang yang sudah kamu nikahi selama bertahun-tahun, atau keluarga tersayang, tetap saja karantina selama pandemi memicu efek psikologi yang tidak menyenangkan bagi setiap orang. Dan faktanya, banyak pasangan yang putus saat pandemi bahkan cerai saat Corona.

Baca Juga: Break Up During Quarantine, What to Do? — A Tragic Personal Experience

Angka Perceraian Selama Pandemi, di Seluruh Dunia 

Di sini, kami coba merangkum data dan survei tentang bagaimana pandemi berpengaruh buruk pada hubungan romantis pasangan serta dinamika rumah tangga dan pasangan. 

Survei di Amerika tentang Cerai saat Pandemi

Berdasarkan survei dari The American Family Survey (AFS) dalam survei besar pertama tentang dinamika keluarga sejak awal pandemi dengan 3.000 orang Amerika yang berpartisipasi, menemukan data bahwa 37% pria dan wanita yang sudah menikah merasa pandemi meningkatkan stres dalam pernikahan mereka, terutama akibat masalah ekonomi. 

Di sisi lain, 34% partisipan yang sudah menikah juga menyetujui bahwa selama pandemi penghasilan pasangannya menurun dan itu meningkatkan masalah dalam hubungan. Sementara orang Amerika yang belum menikah (usia 55 tahun ke bawah), 6% diantaranya melaporkan peningkatan dalam rencana pernikahan, dan 7% berencana untuk menunda rencana pernikahan mereka. Pernikahan. Secara keseluruhan, angka pernikahan di Amerika dinilai menurun dan akan terus menurun hingga 2021. 

Survei di Inggris tentang Cerai saat Corona 

Angka perceraian dan putus cinta saat Corona meningkat di Inggris. Berdasarkan laporan dari firma hukum Inggris terkemuka, Stewarts, mencatat peningkatan angka cerai hingga 122% selama Juli dan Oktober 2020 dibandingkan dalam periode yang sama tahun lalu. 

Survei di Indonesia tentang Cerai saat Pandemi

Berdasarkan laporan perceraian di bulan Juni 2020, dalam 1 bulan itu ada sekitar 900 laporan perceraian, berdasarkan data dari Istiana, Hakim sekaligus Humas Pengadilan Agama Jakarta Timur. Setidaknya, 50% di antara laporan tersebut berasal dari pasutri muda. 

Menurut psikolog, pernikahan di bawah 7 tahun memang rentai gejolak dan perceraian karena pasangan berada dalam masa adaptasi. Dalam kondisi tersebut, ditambah dengan efek psikologi yang buruk selama pandemi, angka perceraian pun semakin meningkat. 

Dan angka perceraian atau kasus putus saat Corona juga meningkat di Tiongkok dan Swedia, serta memengaruhi hampir seluruh pasangan di dunia. 

Baca Juga: Kapan Harus Putus dengan Pacar? Ini 10 Tanda Hubungan Harus Diakhiri

Penyebab Cerai saat Corona 

Lalu kenapa pandemi COVID-19 menyebabkan pasangan bisa putus atau cerai? Faktanya, menjalani karantina bersama pasangan atau keluarga tidak semanis apa yang Ariana Grande dan Justin Bieber dalam lagu Stuck with U

Inilah beberapa faktor penyebab putus saat Corona: 

1. Masalah Kesehatan Mental 

Hidup kita semua tiba-tiba berubah 180 derajat sejak pandemi dimulai dan tidak ada satupun orang yang siap untuk itu. Mengetahui risiko kesehatan, fakta menyeramkan tentang virus Corona, melakukan karantina selama berbulan-bulan, diam di rumah, dan menghentikan semua aktivitas yang biasa kita lakukan, semua perubahan kecil itu pasti membuat kita merasa buruk dan stres. 

Saat setiap pasangan merasa kacau, bosan, overthinking, merasa khawatir akan masa depan, atau menghadapi pasangan yang sama-sama sedang stres, semua bisa terakumulasi menjadi perdebatan dan perpisahan bila tidak diatasi. 

Baca Juga: 13 Cara Menghilangkan Stres Bersama Pasangan

2. Masalah Finansial 

Pandemi juga memengaruhi kemampuan finansial banyak orang. Pasalnya, banyak toko, perusahaan, atau pusat industri yang mau tidak mau harus tutup selama karantina, serta daya beli masyarakat menurun, ini menyebabkan penurunan finansial yang signifikan di banyak negara. 

Banyak juga orang yang kehilangan pekerjaan, dan tentu ini bukan kabar baik. Terutama bila orang tersebut memiliki keluarga besar, tabungan menipis, dan berefek pada kualitas hubungan. Bahkan jauh sebelum Corona, faktor ekonomi selalu menjadi faktor tinggi perpisahan. 

3. Masalah-Masalah Lainnya 

Sulit untuk mengklasifikasikan ini, namun ada banyak masalah pada pasangan yang semakin krusial selama pandemi. Contohnya, saat kalian karantina dengan keluarga namun salah satunya tidak bisa diatur, atau membawa kembali isu buruk yang lama, atau mereka cukup toksik dan kalian stres untuk bersamanya 24/7. 

Atau bila kalian karantina bersama, awalnya kalian sangat senang untuk menghabiskan waktu 24/7 bersama, namun pada beberapa periode berikutnya saat sudah terlalu lama, kalian bisa merasa stres, bosan, dan gelisah karena selalu bersama dan menjadi toksik. Ini bukan tentang cinta atau tidak cinta, namun psikologi manusia memang bekerja dengan cara seperti. 

Dan bila kalian tidak karantina bersama, ini juga dapat memicu masalah. Mulai dari akumulasi rasa rindu hingga khawatir apakah pacar, pasangan, istri, suami kalian baik-baik saja di sana. Intinya, pandemi mengacaukan keseimbangan kita dalam banyak faktor kehidupan yang juga dapat berakibat buruk pada hubungan dengan pasangan atau hubungan sosial lainnya. 

Baca Juga: 10 Manfaat Olahraga untuk Stress Akibat Patah Hati 

Kabar Baik tentang Hubungan Selama Pandemi

Di sisi lain, ada pasangan yang benar-benar hidup dalam lagu Stuck with U dan merasa bahwa pandemi adalah momen yang baik untuk memperbaiki hubungan dengan pasangan, atau merasakan manisnya hubungan tersebut lagi. 

Dalam sebuah studi, pasangan merasa bahwa mereka bisa menghabiskan waktu berkualitas bersama selama pandemi, melakukan aktivitas bersama, berbagi pekerjaan rumah, serta intiya merasa baik-baik saja dengan hubungan mereka. 

56% partisipan mengakui bahwa selama pandemi mereka jadi lebih belajar untuk menghargai dan menyayangi pasangan mereka. Sementara 4&% partisipan lainnya mengatakan bahwa mereka jadi lebih memperdalam komitmen mereka terhadap hubungan selama pandemi. 

Intinya, setiap pasangan bereaksi berbeda selama pandemi. Ada juga pasangan yang mungkin sudah memiliki akar masalah sebelum pandemi dan itu meledak saat pandemi. Ada juga pasangan yang akhirnya bisa bertemu dan istirahat dari pekerjaannya untuk bisa memperdalam hubungan dengan pasangan selama pandemi. 

Cara Menjaga Hubungan Langgeng Selama Pandemi 

Kami sudah mengumpulkan beberapa tips menjaga hubungan langgeng selama pandemi, dilansir dari Cleveland Clinic, seperti: 

  • Komunikasi yang baik dan harus saling mendengarkan. 
  • Saling mendukung karena pandemi ini memang tidak mudah dan semua orang di dunia juga suffering. 
  • Hargai pasangan dan tetap bersyukur bahwa kita semua masih diberkati di dunia ini. 
  • Lakukan hal-hal baru yang positif untuk menjaga kewarasan individu dan memberi percikan kebahagiaan dalam hubungan. 
  • Habiskan waktu berpisah. Bila kalian karantina bersama, tetap harus ada waktu atau jadwal di mana kalian bisa sendiri. Bagaimanapun tetap harus ada waktu me time atau misal saat sedang WFH jangan diganggu. 
  • Kerja sama. Corona atau tidak Corona, pasangan harus selalu kerja sama. Saat satu menemukan kesulitan, satunya harus membantu dan mendukung. Terutama di masa pandemi di mana setiap orang sangat butuh dukungan. 
  • Minta pertolongan pada profesional bila hubungan kalian ada di puncak kehancuran. 

Namun, pada praktiknya setiap pasangan harus menemukan jalannya sendiri dan pertimbangannya sendiri tentang apakah hubungan bisa lanjut atau tidak. 

Akhirnya, pandemi ini masih berlangsung hingga sekarang (Mei, 2021). Semoga kita semua selalu sehat dan pada akhirnya ada solusi terbaik agar hidup kita kembali bahagia tanpa Corona menghantui kita semua. 

Referensi:

BBC. 2020. Why the pandemic is causing spikes in break-ups and divorces. bbc.com/worklife/article/20201203-why-the-pandemic-is-causing-spikes-in-break-ups-and-divorces. 

Cleveland Clinic. 2021. Has the Pandemic Caused More Breakups? health.clevelandclinic.org/has-the-pandemic-caused-more-breakups/. 

Kompas. 2020. Selama Pandemi Banyak Pasutri Muda Bercerai, Ini Penyebabnya. megapolitan.kompas.com/read/2020/09/03/17260561/selama-pandemi-banyak-pasutri-muda-bercerai-ini-penyebabnya.

Author: A Writer in The Dark

“Misery, sadness, loss of faith, no reason to live… this is perfect for you.” — Vance from 500 days of Summer

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s